Autonesian.com – Minat terhadap mobil listrik bekas terus menunjukkan tren mengejutkan di 2026, di tengah penurunan pasar EV baru dan kekhawatiran soal umur baterai, justru penjualan kendaraan listrik bekas melonjak tajam.
Melansir Insideevs, hampir 43.000 mobil listrik bekas terjual hanya pada bulan Maret saja, mencetak rekor bulanan baru.
“Itu benar-benar di luar perkiraan siapa pun,” kata Scott Case, co-founder dan CEO Recurrent, startup yang melacak kesehatan baterai EV bekas.
“Per 30 September tahun lalu, semua insentif habis, dan seharusnya pasar masuk ke masa kiamat EV. Tapi ternyata tidak.” lanjutnya.
Meski pasar mobil listrik baru sedang mengalami tekanan, mobil listrik bekas justru semakin diminati.
Kondisi ini terjadi meskipun kekhawatiran soal degradasi (penurunan) baterai masih menjadi pertimbangan utama banyak calon pembeli.
Salah satu faktor penting adalah meningkatnya pasokan EV bekas sewa (off-lease) yang kini mulai membanjiri pasar.
Selain itu, harga bahan bakar yang tinggi juga ikut mendorong konsumen beralih ke mobil listrik bekas.
Scott Case juga menilai semakin banyak orang sadar bahwa memilih EV bekas bisa menjadi cara mendapatkan kendaraan yang lebih baru, lebih canggih, dan lebih bernilai dibanding mobil bermesin bensin bekas.
Pertanyaan terbesarnya adalah seberapa besar sebenarnya penurunan performa baterai EV bekas?
Berdasarkan analisis Recurrent terhadap lebih dari 1 miliar mil perjalanan kendaraan listrik dari puluhan ribu unit selama enam tahun terakhir.
Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas EV baru memiliki daya tahan baterai jauh lebih baik dari kekhawatiran banyak orang.
“Hal paling mengejutkan bagi saya selama periode itu, setelah melihat semua data yang masuk, adalah mobil-mobil ini ternyata bertahan jauh lebih baik dari yang saya perkirakan saat pertama mendirikan perusahaan,” katanya.
Menurut data Recurrent, rata-rata EV masih mempertahankan 97% dari jarak tempuh awalnya setelah tiga tahun dan 95% setelah lima tahun.
Memang, penggunaan di iklim sangat panas atau kebiasaan fast charging berlebihan dapat memengaruhi kesehatan baterai. Namun secara umum, penurunan performa pada EV berusia beberapa tahun tergolong kecil.
Bahkan, sejumlah merek seperti Cadillac, Ford, Hyundai, Mercedes-Benz, dan Rivian disebut tidak menunjukkan penurunan jarak tempuh yang signifikan setelah tiga tahun penggunaan.
Meski begitu, bukan berarti baterai tidak mengalami degradasi sama sekali. Penurunan tetap terjadi, hanya saja lajunya jauh lebih lambat dibanding anggapan umum.
Beberapa produsen juga diketahui menyimpan buffer baterai tersembunyi untuk menjaga konsistensi performa kendaraan.
“Ini memang teknologi baru dibanding mobil bermesin konvesional, jadi saya rasa ketakutannya jauh lebih besar daripada kenyataan yang sebenarnya terjadi,” tuturnya.
Menariknya, kondisi ini juga membuka peluang baru bagi pemburu mobil bekas, EV yang pernah mengalami kerusakan baterai tetapi sudah mendapatkan penggantian unit melalui garansi justru bisa menjadi pilihan yang sangat menarik.
Sebab, baterai baru hasil penggantian garansi pada dasarnya memberi masa pakai baru yang dapat memperpanjang umur kendaraan secara signifikan.
“Memang jarang, tapi jika Anda menemukan mobil berusia lima, enam, atau tujuh tahun yang baterainya baru diganti setahun sebelumnya, itu adalah penawaran luar biasa,” tutup Case.
GIPHY App Key not set. Please check settings