Autonesian.com – Peluncuran armada taksi listrik dalam jumlah besar kembali mengguncang industri transportasi Asia Tenggara.
Green Xentro resmi memulai tahap awal operasional 2.500 unit taksi berbasis baterai (BEV) di Provinsi Rizal, Filipina, sebuah langkah ambisius yang langsung mencuri perhatian karena skalanya yang masif dan pendekatan bisnisnya yang berbeda dari model konvensional.
Tak sekadar ekspansi armada, langkah ini menjadi tonggak penting dalam adopsi mobilitas listrik di negara berkembang.
Green Xentro menggandeng platform global Green GSM untuk menghadirkan sistem transportasi modern yang terintegrasi, mulai dari kendaraan listrik, infrastruktur teknologi, hingga standar layanan yang seragam.
Model kolaborasi ini disebut-sebut sebagai blueprint baru untuk percepatan ekosistem EV di kawasan Asia Tenggara.
Menariknya, jumlah armada yang awalnya direncanakan sebanyak 2.000 unit kini ditingkatkan menjadi 2.500 unit.
Hal ini mencerminkan optimisme tinggi terhadap kesiapan operasional sekaligus potensi pasar yang terus berkembang.
Setelah Rizal, ekspansi akan berlanjut ke Metro Manila dan wilayah sekitarnya, membuka peluang adopsi yang lebih luas dalam waktu dekat.
Dari sisi teknologi, seluruh armada sudah dibekali sistem monitoring real-time, GPS tracking, CCTV, dashcam, hingga panic button yang terhubung langsung ke pusat kontrol 24 jam.
Ini bukan sekadar soal kendaraan listrik, tapi juga peningkatan standar keselamatan dan kenyamanan penumpang secara menyeluruh.

Dengan sistem tarif transparan dan opsi pembayaran digital, pengalaman pengguna pun dibuat semakin modern dan praktis.
Tak hanya fokus pada penumpang, Green Xentro juga membawa pendekatan baru untuk kesejahteraan pengemudi.
Mereka tidak lagi berbasis komisi semata, melainkan mendapatkan gaji tetap bulanan, insentif berbasis performa, serta berbagai manfaat kerja lainnya.
Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme sekaligus stabilitas ekonomi para driver.
CEO Green Xentro, Noel M. Ignacio, menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar ekspansi bisnis, melainkan investasi jangka panjang dalam sistem transportasi yang lebih baik.
“Ini adalah investasi jangka panjang untuk membangun sistem transportasi yang lebih andal dan terstruktur, sekaligus meningkatkan kualitas hidup para pengemudi dan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Managing Director Green GSM Asia Tenggara, Dao Quy Phi, menyebut langkah ini sebagai awal dari model global yang dapat direplikasi di berbagai negara berkembang.
“Ini bukan sekadar peluncuran armada, tetapi tahap awal dari model yang dapat diskalakan secara global, menggabungkan standar internasional dengan keahlian lokal,” jelasnya.
Dengan dukungan jaringan charging EV yang terus berkembang serta komitmen terhadap pengurangan emisi, proyek ini juga menjadi bagian dari upaya besar menuju transportasi berkelanjutan.
Green Xentro tak hanya membangun armada, tetapi juga ekosistem yang berpotensi mengubah wajah transportasi publik di masa depan.
Jika model ini berhasil, bukan tidak mungkin Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya akan segera menyusul—dan revolusi taksi listrik bisa datang lebih cepat dari yang diperkirakan.
GIPHY App Key not set. Please check settings