Honda Siap Setop Penjualan Mobil di Negara Ini

0
ilustrasi logo Honda
Honda. Foto : EPA-EFE/FRANCK ROBICHON

Autonesian.com – Produsen otomotif asal Jepang, Honda secara resmi telah memutuskan akan berhenti memasok jajaran mobil baru di seluruh jaringan dealer resminya.

Adapun pemberhentian penjualan mobil baru tersebut akan berlaku di Rusia pada tahun 2022. Pasalnya langkah keputusan ini juga menjadi bagian upaya pabrikan Jepang ini untuk  merestrukturisasi operasi globalnya di tengah pandemi global.

Diketahui penjualan mobil Honda tidak mulus seperti pesaingnya, yakni Toyota dan Nissan. Pabrikan otomotif berlogo H ini juga sendiri tidak memiliki fasilitas manufaktur di Rusia, dimana mereka hanya menjual 79 kendaraan pada bulan November.

Penjualan 79 kendaraan tersebut juga setara penuruan sebesar 50% dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama. Honda saat ini hanya menjual dua model di Rusia dan keduanya adalah SUV, yaki CR-V dan Pilot.

Autonesian Youtube Channel

Diketahui pada tahun lalu, pabrikan ini juga mencatat angka penjualan di Rusia dari bulan Januari hingga November hanya mampu menjual sebanyak 1.383 unit atau setara turun sebesar 15% dibanding periode yang sama.

Honda Cr-v dan Pilot Rusia

Seperti dilansir halaman Carscoops, meski resmi mengumukan akan berhenti memasok kendaraan baru di Rusia, pihak Honda akan tetap melayani para konsumen setianya dalam memberikan layanan purna jual kendaraan.

Baca Juga :  Dealer Harley Davidson di Kelapa Gading Resmi Beroperasi

Disisi lain, pabrikan ini juga dikabarkan akan tetap mempertahankan untuk menjual berbagai jenis kendaraan sepeda motor dan juga kebutuhan produk-produk di bidang peralatan listrik di Rusia.

Selain menyetop penjualan mobil baru, Honda juga berencana untuk tidak lagi menjual kendaraan berbahan bakar bensin dan minyak diesel murni pada tahun 2023. Cara ini dilakukan untuk rencana Honda di Eropa untuk menjajakan produk model full-electric maupun hybrid.

Menurut eksekutif perusahaan Ian Howells, pihaknya percaya pada bahan bakar alternatif dan belum siap untuk menggunakan tenaga penggerak sepenuhnya. ‘Electric vehicle sepertiga hingga 50% lebih mahal daripada kendaraan konvensional atau hibrida,” katanya.

Namun, Howells juga menegaskan bahwa kendaraan hibrida tidak mewakili solusi jangka panjang.“itulah mengapa kami melihat ini sebagai jenis teknologi transisi atau menjembatani untuk membawa kami ke titik di dimana teknologi di balik baterai dan infrastruktur telah siap untuk bergerak maju dalam menawarkan mobilitas pribadi massal dengan jenis pembawa energi baru,” tutupnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here