Autonesian.com – PT Astra International Tbk mencatatkan kinerja keuangan yang relatif stabil sepanjang tahun 2025 meskipun menghadapi sejumlah tekanan dari pasar otomotif dan komoditas.
Perusahaan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp323,4 triliun atau turun 2 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara laba bersih tercatat Rp32,8 triliun, turun sekitar 3 persen secara tahunan.
Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh melemahnya harga batu bara serta kondisi pasar mobil nasional yang belum sepenuhnya pulih.
Meski demikian, Astra tetap menunjukkan ketahanan bisnis berkat kontribusi positif dari sejumlah lini usaha lain seperti sepeda motor, jasa keuangan, hingga pertambangan emas.
Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, menegaskan bahwa kondisi tersebut masih dalam batas yang dapat dikendalikan perusahaan.
“Pada tahun 2025, laba Grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung kontribusi yang baik dari bisnis lainnya,” ujarnya.
Dari sisi otomotif, pasar mobil nasional sepanjang 2025 tercatat turun sekitar 7 persen menjadi 804 ribu unit. Namun Astra masih mampu mempertahankan dominasi dengan pangsa pasar mencapai 51 persen.
Sementara itu, penjualan sepeda motor nasional justru meningkat tipis menjadi 6,4 juta unit dengan pangsa pasar Astra Honda Motor tetap kuat di level 78 persen.
Kondisi ini menjadi salah satu faktor penting yang menahan penurunan kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Kontribusi bisnis jasa keuangan juga menunjukkan pertumbuhan positif dengan laba naik 9 persen menjadi Rp9 triliun, didorong peningkatan portofolio pembiayaan konsumen.
Sebaliknya, divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi mengalami penurunan cukup dalam hingga 24 persen akibat turunnya harga batu bara global meskipun bisnis emas mengalami peningkatan kinerja berkat kenaikan harga komoditas tersebut.
Menariknya, Astra juga tetap agresif melakukan ekspansi strategis sepanjang tahun dan perusahaan meningkatkan investasi di sektor kesehatan melalui Halodoc dan Hermina.
Disisi lain memperkuat bisnis mobil bekas OLXmobbi bersama Toyota Motor Asia, serta mengakuisisi perusahaan tambang emas baru pada awal 2026.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa Astra terus menyiapkan pertumbuhan jangka panjang di luar sektor otomotif tradisional.
Ke depan, Astra optimistis sentimen konsumen akan membaik seiring pemulihan ekonomi nasional.
Perusahaan juga menegaskan akan tetap fokus pada efisiensi operasional serta alokasi modal yang disiplin untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan.
“Kami memperkirakan sentimen konsumen secara keseluruhan akan membaik. Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan memanfaatkan posisi neraca yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai berkelanjutan,” tutup Djony.
Sebagai informasi tambahan, Astra mengusulkan dividen total sebesar Rp390 per saham untuk tahun buku 2025, dengan rasio pembayaran sekitar 48 persen, yang akan dimintakan persetujuan dalam RUPS pada April 2026 mendatang.
GIPHY App Key not set. Please check settings