Autonesian.com – Polytron menjadi salah satu pengecualian di tengah perlambatan pasar elektronik global dan perubahan perilaku konsumen yang makin dinamis, di mana hanya sedikit merek yang mampu tetap berdiri kokoh sekaligus terus bertumbuh.
Merek lokal yang lahir dari tanah Jawa ini tidak hanya bertahan lebih dari lima dekade, tetapi juga konsisten menunjukkan performa bisnis positif di saat banyak kompetitor harus menyesuaikan langkah.
Tahun 2025 menjadi bukti nyata ketangguhan Polytron, dengan pencapaian peringkat pertama kategori audio, peringkat kedua refrigerator, serta posisi tiga besar untuk televisi dan mesin cuci di pasar nasional.
Bahkan di segmen kendaraan listrik, Polytron kini tercatat sebagai merek EV nomor satu di Indonesia dengan hampir 40.000 pengguna, menegaskan bahwa merek lokal pun mampu memimpin di sektor teknologi masa depan.
Lebih dari sekadar mengejar angka penjualan, Polytron membangun fondasi pertumbuhan lewat konsistensi inovasi dari dalam negeri.
Seluruh riset dan pengembangan dilakukan oleh talenta lokal Indonesia, sejalan dengan komitmen peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta penguatan kemandirian industri nasional.
Pendekatan ini membuat Polytron tidak hanya memproduksi perangkat elektronik rumah tangga, tetapi juga menciptakan ekosistem kendaraan listrik yang semakin matang.
Kehadiran portable fast charger untuk motor listrik Polytron menjadi salah satu terobosan yang menjawab kekhawatiran konsumen soal jarak tempuh, memungkinkan pengisian cepat untuk mobilitas jarak jauh.
“Ketangguhan bukan hanya soal bertahan di tengah perubahan, tetapi tentang keberanian untuk terus berinovasi dan tumbuh bersama masyarakat,” ungkap pihak Polytron melalui keterangan resminya.
Momentum usia lebih dari 50 tahun pun menjadi titik awal baru bagi Polytron untuk melangkah lebih agresif.
Tahun 2026 dibuka dengan komitmen menghadirkan inovasi berkelanjutan, termasuk pengembangan fasilitas produksi battery pack kendaraan listrik di dalam negeri.
Langkah ini tidak hanya mendukung target TKDN hingga 60 persen, tetapi juga sejalan dengan agenda pemerintah menuju Net Zero Emission.
Dengan kata lain, Polytron tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi juga ikut berperan dalam transisi energi nasional menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Di sisi lain, komitmen Polytron terhadap keberlanjutan juga tercermin dari upaya efisiensi energi dan pengelolaan limbah.
Perusahaan mencatat penurunan intensitas energi lebih dari 10 persen, serta keberhasilan mendaur ulang sebagian besar limbah plastik dari proses produksi.
Kepuasan layanan pelanggan pun berada di angka tinggi, memperlihatkan bahwa inovasi teknologi selalu dibarengi peningkatan kualitas aftersales.
Tak hanya itu, brand lokal ini juga aktif mendukung pendidikan vokasi dengan ratusan sekolah binaan untuk menyiapkan talenta industri masa depan.
Semua ini memperlihatkan bahwa ketangguhan merek tidak hanya diukur dari produk yang dijual, tetapi juga dampak sosial yang ditinggalkan.
Kedekatan dengan masyarakat menjadi elemen penting dalam strategi Polytron, di mana berbagai kampanye gaya hidup seperti Polytron Fest dan program Ramadan.
Selain itu juga terdapat program inisiatif komunitas kendaraan listrik memperlihatkan bagaimana merek ini berupaya hadir di keseharian konsumen, bukan sekadar sebagai produsen perangkat.
Dengan performa bisnis yang solid, inovasi lokal, komitmen keberlanjutan, serta kedekatan sosial, Polytron membuktikan bahwa merek nasional mampu bersaing dan memimpin di tengah perubahan industri, sementara lebih dari lima dekade perjalanannya menjadi pijakan untuk terus melangkah lebih jauh.
Polytron hari ini bukan hanya ikon elektronik Indonesia, tetapi juga simbol bahwa merek lokal bisa menguasai teknologi masa depan dan tumbuh bersama bangsa
GIPHY App Key not set. Please check settings