Penjualan Melemah, Pabrik Toyota Indonesia Tak Lagi Sekencang Dulu

Toyota S HEV
Toyota HEV. Foto : Dok.TMIIN/Autonesian

Autonesian.com – Tren pasar otomotif Indonesia sepanjang 2025 memang penuh gejolak dan salah satunya performa Toyota yang paling mencuri perhatian, sang jawara jalanan yang kini mulai terasa tekanan besar.

Dominasi Toyota di Indonesia tak hilang begitu saja, tapi data penjualan terbaru memperlihatkan bahwa kekuatan raksasa otomotif ini sedang diuji oleh kondisi pasar yang melambat dan gelombang mobil listrik impor yang semakin kuat.

Selama Januari–Oktober 2025, total penjualan mobil nasional lewat jalur wholesales (dari pabrik ke dealer) tercatat hanya sekitar 634.844 unit, turun 10,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai lebih dari 711.000 unit.

Retail sales (penjualan dari dealer ke konsumen) juga menunjukkan tren turun, yakni sekitar 660.659 unit, turun hampir 10 persen year-on-year.

Penurunan penjualan ini merupakan beban nyata bagi seluruh pabrikan, termasuk Toyota yang produksinya kini ikut terdampak.

Toyota sendiri masih mempertahankan posisi teratas meski pasar melemah. Hingga periode Januari–Oktober 2025, Toyota memimpin pasar dengan penjualan retail sekitar 209.387 unit, jauh di atas pesaingnya seperti Daihatsu dan Honda.

Baca Juga :  Team Suzuki Ecstar Berhasil Raih Podium Perdana di MotoGP Argetina 2018

Bahkan pada November 2025, Toyota berhasil mencatat penjualan retail lebih dari 24.268 unit, melonjak dari bulan sebelumnya.

Data wholesales untuk periode Januari hingga November 2025 juga mengukuhkan dominasi Toyota dengan penjualan mencapai lebih dari 218.000 unit, menjadikannya merek paling banyak terjual di Indonesia dalam setahun penuh.

Sementara di bulan November saja, Toyota mencatatkan sekitar 21.642 unit terjual, mengungguli merek lain seperti Daihatsu dan BYD.

Toyota Zenix Ekspor Indonesia

Meskipun angka absolut Toyota masih kuat, penurunan volume pasar membuat pabrik Toyota Indonesia mengalami under-utilization, artinya kapasitas produksi tidak berjalan optimal.

Bob Azam, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), mengakui bahwa tren penurunan permintaan domestik membuat utilitas pabrik turun jauh dari potensi kapasitas maksimal.

“Faktor lain yang turut menekan adalah masuknya mobil listrik impor ke pasar Indonesia, terutama dari merek-merek China yang agresif menembus segmen EV,” jelas Bob.

Baca Juga :  Yamaha Vega Force Kini Punya Balutan Baru

Meski belum menggusur mobil bensin secara total, mobil listrik berhasil menarik minat konsumen sehingga sebagian permintaan bergeser dari model tradisional yang diproduksi domestik.

Toyota kini berharap adanya stimulus dari pemerintah, khususnya dalam bentuk relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), untuk mendorong permintaan baru.

Menurut Bob, kebijakan seperti ini pernah efektif meningkatkan daya beli konsumen dan bisa membantu mengangkat angka penjualan mobil nasional secara keseluruhan.

Selain itu juga turut diproyeksikan mencapai sekitar 800 ribu unit pada akhir 2025 jika momentum itu kembali terbangun.

Di tengah tantangan ini, Toyota tetap menjadi raja pasar mobil Indonesia, tetapi tekanan pasar yang melemah dan perubahan preferensi konsumen jelas menjadi tantangan besar.

Bagaimana Toyota Indonesia bergerak di tahun 2026 akan sangat menentukan apakah dominasi mereka tetap kokoh atau bergeser di panggung otomotif tanah air.

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Previous Article
Pertamina Fastron Enduro Service SPBU

Isi BBM Sekalian Servis, Enduro Service Resmi Hadir di SPBU Pertamina

Next Article
Suzuki Fronx Australia

ANCAP Bongkar Kelemahan Suzuki Fronx, 324 Unit Langsung Kena Recall

Related Posts